BeritaLintas DaerahNewsTNI / POLRI

GUNUNG ANAK KRAKATAU ERUPSI, DENTUMAN MISTERIUS TEMBUS JAWA BARAT

53
×

GUNUNG ANAK KRAKATAU ERUPSI, DENTUMAN MISTERIUS TEMBUS JAWA BARAT

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Eksposelensa.com – BANDUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian.

Pada Sabtu, 5 September 2026, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan terjadinya erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang disertai suara gemuruh.

Erupsi tercatat mulai terjadi sekitar pukul 23.07 WIB dan berlangsung hingga dini hari. Dari hasil pengamatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran, semburan berwarna merah menyala terlihat secara terus-menerus. Fenomena tersebut disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.

Yang menarik perhatian masyarakat bukan hanya aktivitas erupsi, tetapi juga suara dentuman dan getaran yang dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
Di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya, masyarakat melaporkan mendengar suara seperti dentuman dan merasakan getaran pada waktu yang berdekatan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau.

Badan Geologi menyatakan terdapat dugaan keterkaitan antara suara dentuman dan getaran tersebut dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau karena waktunya berlangsung bersamaan.

Namun, hubungan tersebut tetap perlu dipahami sebagai dugaan berdasarkan korelasi waktu dan pemantauan, bukan sebagai kesimpulan bahwa seluruh suara yang terdengar di Jawa Barat pasti berasal dari Krakatau.

Fenomena suara erupsi yang dapat terdengar dari jarak jauh sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam catatan Badan Geologi, aktivitas Anak Krakatau pada masa lalu juga pernah menghasilkan suara dentuman atau air shock yang terdengar hingga wilayah yang cukup jauh.

Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi menyebut potensi bahaya aktivitas saat ini terutama berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi serta tidak mendekati kawasan pusat aktivitas gunung api.

Badan Geologi juga menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi saat ini, tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan belum dinilai berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dipantau secara intensif.

Dentuman yang menembus hingga Jawa Barat menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik di Selat Sunda masih perlu diikuti dengan kewaspadaan.

Masyarakat di Jawa Barat yang mendengar suara dentuman atau merasakan getaran diimbau tidak langsung menyimpulkan penyebabnya, melainkan menunggu informasi resmi dari lembaga berwenang seperti PVMBG dan BMKG.

( Aji Saka )