BeritaBudayaNewsSosial

Puncak HUT ke-81 RI di Karanggedang: Refleksi Kepemimpinan Lewat Lakon Wahyu Makutarama

75
×

Puncak HUT ke-81 RI di Karanggedang: Refleksi Kepemimpinan Lewat Lakon Wahyu Makutarama

Sebarkan artikel ini

Cilacap, Eksposelensa.com – Kemeriahan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kecamatan Sidareja berlangsung penuh khidmat dan semarak. Selain pertunjukan di desa Penyarang, desa Karanggedang juga menggelar pementasan wayang kulit semalam suntuk di Aula Balai Desa Karanggedang pada Selasa, (18/08/2026).

Dipandu oleh Pambiwara, Saminto, S.Pd, acara puncak perayaan menghadirkan dalang kondang asal Kabupaten Kebumen, Ki Dalang Eko Suwaryo yang membawakan lakon “Wahyu Makutarama”.

Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Cilacap Fraksi PKB Saeful Musta’in, Camat Sidareja Nugroho S Budi Santoso, S.STP., M.Si yang diwakili Sekcam Sidareja Kamto, M.Pd, Kapolsek Sidareja AKP Amin Antalsa Subbiki, SH., MH, Danramil Sidareja Kapt. Inf. Agus Sudarso yang diwakili oleh Babinsa. Turut hadir Kepala Desa Karanggedang Saryo beserta jajaran perangkat desa, Kades Gunungreja Lasiman, Kades Tegalsari Samirin, Kades Margasari Samingun, Kades Wringinharjo Hasanan, Kades Rungkang Susanto dan Kades Cidadap Karangpucung Suwatir, BPD, LPKMD, Karang Taruna, Tim Penggerak PKK, Linmas, tokoh masyarakat, hingga masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Karanggedang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat dan para donatur yang telah bergotong royong mensukseskan Rangkaian HUT ke-81 RI di desanya.

“Selain memfasilitasi seni budaya dan lomba warga, Pemerintah Desa Karanggedang melalui BUMDes juga menyalurkan bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam waktu dekat, warga juga akan bergotong royong secara swadaya membangun lima jembatan desa,” ujar Saryo.

Apresiasi senada disampaikan oleh Pemerintah Kecamatan Sidareja, Sekcam Kamto menyambut baik konsistensi Pemdes Karanggedang dalam melestarikan seni pewayangan. Menurutnya, tradisi budaya seperti ini terbukti ampuh mempererat rasa persatuan dan kesatuan antar warga, sekaligus menjadi sarana untuk mendukung program pembangunan dari pemerintah pusat hingga tingkat desa.

Pementasan lakon “Wahyu Makutarama” malam itu menyedot perhatian penonton karena sarat akan pesan filosofi kepemimpinan. Kisah epik pewayangan yang diadaptasi dari cerita Mahabharata ini mengisahkan perebutan “Wahyu Makutarama” yakni sebuah mahkota spiritual simbol kejayaan dan kearifan seorang pemimpin yang bersemayam pada Begawan Kesawasiddhi di Pertapan Kutarama.

Dalam cerita tersebut, kubu Kurawa mencoba merebut wahyu dengan kesombongan dan kelicikan hingga berujung kegagalan. Sebaliknya, Raden Arjuna dari kubu Pandawa berhasil memenangkan wahyu tersebut berkat kesabaran, kerendahan hati dan ketulusan niat.

Begawan Kesawasiddhi yang tak lain merupakan penjelmaan Sri Kresna akhirnya menyerahkan wahyu tersebut kepada Arjuna, namun bukan dalam wujud benda fisik, melainkan dalam bentuk ajaran luhur “Asthabrata” yaitu delapan watak alam yang wajib dimiliki seorang pemimpin.

Delapan watak tersebut diantaranya adalah Watak Bumi yaitu pemurah, pemaaf, sabar dan memberi penghidupan tanpa membeda-bedakan. Watak Matahari (Surya) yakni memberi energi, inspirasi, serta keadilan secara konsisten dan Watak Bulan (Candra) yang mampu memberikan ketenangan, kedamaian, dan pencerahan di tengah krisis. Watak Bintang (Kartika) yang menjadi teladan moral dan pengarah jalan hidup sesama.

Selain itu, ada Watak Angin (Maruta) yaitu dekat dengan rakyat, mampu masuk ke seluruh lapisan masyarakat dan teliti. Watak Samudra (Baruna) yang berpikiran luas serta sanggup menampung aspirasi dan keluh kesah warga. Watak Api (Agni) yang tegas, berani menegakkan hukum secara adil dan membasmi kejahatan tanpa pandang bulu serta Watak Air (Banyu) yang rendah hati, selalu mengalir ke tempat rendah (peduli rakyat kecil), dan menyejukkan.

Perlu diketahui oleh masyarakat bahwa Lakon Wayang Kulit “Wahyu Makutarama” menegaskan pesan moral bahwa kepemimpinan sejati bukanlah sekadar tahta, jabatan atau kekuasaan fisik, melainkan kematangan spiritual dan kesanggupan meneladani sifat-sifat alam demi kemaslahatan bersama.

Liputan : Muhiran 

Editor    : Wakil Pimpinan Umum 

Informasi lainnya, kunjungi Facebook Central Media dengan klik tautan :

https://www.facebook.com/profile.php?id=61592238848093

Anda harus menginstal aplikasi Facebook sebelumnya untuk mengakses kami.