BeritaBudayaNewsOlahragaSosial

Tanpa Pungutan Biaya! Intip Kemeriahan Puncak HUT RI ke-81 di Penyarang Cilacap dan Pesan Moral Lakon Wayangnya

58
×

Tanpa Pungutan Biaya! Intip Kemeriahan Puncak HUT RI ke-81 di Penyarang Cilacap dan Pesan Moral Lakon Wayangnya

Sebarkan artikel ini

Cilacap, Eksposelensa.com — Puncak peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di desa Penyarang kecamatan Sidareja kabupaten Cilacap berlangsung semarak pada Senin (17/8/2026). Pemerintah Desa (Pemdes) Penyarang menggelar tiga rangkaian acara besar secara serentak yang dipusatkan di sekitar balai desa, yakni pagelaran wayang kulit semalam suntuk, pasar malam UMKM dan turnamen terbuka bola voli.

Kemeriahan pesta rakyat ini terasa makin spesial karena seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan tanpa memungut biaya kepada masyarakat umum.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Camat Sidareja yakni Kasi PMK Sartono, SE., jajaran perangkat desa, BPD, Karang Taruna, tokoh masyarakat, tokoh agama serta ribuan warga Penyarang dan sekitarnya.

Kepala Desa Penyarang, Rasimin, menjelaskan bahwa suksesnya acara gratis bagi masyarakat ini terwujud berkat sinergi yang kuat antara Pemdes, Karang Taruna, dan KPMP Desa Penyarang selaku pendorong utama (promotor).

Selain itu, dukungan nyata juga mengalir dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Cilacap. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sumbangsih serta perhatian dari Ketua dan struktur DPC PSI Kabupaten Cilacap.

Sementara itu, Ketua DPC PSI Kabupaten Cilacap, Edi Santoso (Boss Edi), diwakili oleh Sekretaris DPD PSI Yohanes dalam sambutannya menyampaikan apresiasi karena konsistensi desa Penyarang yang terus merawat kebudayaan lokal.

“Desa Penyarang ini luar biasa karena sejak dulu konsisten “nguri-nguri” (melestarikan) budaya. Kami berharap kegiatan ini membawa manfaat luas, termasuk keterlibatan stan-stan UMKM yang turut menggerakkan roda perekonomian warga,” kata Yohanes.

Atraksi utama yang menyedot perhatian ribuan penonton malam itu adalah pagelaran wayang kulit yang menampilkan dalang lokal kenamaan, Ki Sutoyo, SI.Kom. (Ki Dalang Sutoyo Siswo Carito) dari Sidamulya kecamatan Sidareja. Ki Sutoyo membawakan lakon bertajuk “Petruk Nagih Janji”.

Lakon ini mengisahkan kekecewaan Petruk terhadap para raja dan ksatria Amarta yang ingkar janji. Diceritakan, Kerajaan Amarta sempat dilanda krisis besar. Atas kesetiaan dan pengabdiannya, Petruk dimintai bantuan untuk menyelesaikan krisis tersebut dengan imbalan janji berupa sebidang tanah atau kehormatan.

Namun, setelah kedamaian pulih, para penguasa justru melupakan janji mereka. Merasa diremehkan, Petruk bangkit menuntut keadilan. Dalam kisahnya, Petruk bahkan sempat menguasai pusaka Jamus Kalimasada dan menjadi raja sementara bergelar Prabu Belgeduwelbeh untuk memberi pelajaran bagi penguasa yang sombong, sebelum akhirnya para ksatria sadar dan memenuhi janji mereka.

Sajian wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan visual, tetapi juga menyelipkan kritik sosial dan pesan moral yang mendalam bagi masyarakat serta para pemimpin yaitu menjaga amanah dan janji.  Janji adalah utang yang wajib ditepati tanpa memandang kedudukan sosial. Ksatria atau penguasa akan kehilangan keagungan moralnya jika ingkar janji.

Kritik Sosial Kepada Penguasa yang digambarkan sosok Petruk mewakili “wong cilik” (rakyat kecil). Lakon ini menyentil fenomena sosial dimana rakyat sering kali hanya dimanfaatkan saat penguasa membutuhkan bantuan, tetapi dilupakan ketika krisis berlalu.

Selain itu, terdapat filosofi lain yaitu keadilan dan kesetaraan hak. Meskipun berstatus sebagai “punakawan” (hamba), Petruk memiliki hak yang sama untuk menuntut keadilan karena martabat manusia tidak diukur dari takhta, melainkan dari integritas. Terakhir adalah kepemimpinan yang membumi sebagai pengingat bagi para pemimpin agar tidak arogan, mau mendengarkan aspirasi rakyat bawah serta ingat pada jasa orang-orang di sekitarnya.

Melalui perpaduan kegiatan olahraga, pemberdayaan ekonomi UMKM, nasionalisme dan pentas seni budaya ini, puncak peringatan kemerdekaan di desa Penyarang berhasil menjadi ruang pemersatu sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat setempat.

Liputan : Muhiran
Editor    : Wakil Pimpinan Umum

Informasi lainnya, kunjungi Facebook Central Media dengan klik tautan :
https://www.facebook.com/profile.php?id=61592238848093
Anda harus menginstal aplikasi Facebook sebelumnya untuk mengakses kami.