Cilacap, Eksposelensa.com – Kemeriahan tasyakuran HUT ke-81 Republik Indonesia di desa Margasari kecamatan Sidareja kabupaten Cilacap resmi ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada Rabu (19/08/2026) malam. Acara tahunan yang ditempatkan di Aula Balai Desa Margasari tersebut menghadirkan Ki Dalang Eko Suwaryo dari Kebumen dengan lakon “Wahyu Katentreman“.
Kegiatan ini dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Cilacap Fraksi PKB Saeful Musta’in, Camat Sidareja Nugroho S Budi Santoso, S.STP., M.Si, Kapolsek Sidareja AKP Amin Antalsa Subbiki, SH., MH yang diwakili oleh Bhabinkamtibmas, Danramil Sidareja Kapt. Inf. Agus Sudarso yang diwakili oleh Babinsa, Kades Margasari Samingun beserta Sekdes Kholid Barkah, S.Pd dan seluruh perangkat desa, Kades Tegalsari Samirin, Kades Penyarang Rasimin, Kades Karanggedang Saryo, Kades Sudagaran Supriyadi, Kades Tinggarjaya Hj. Suwarni, Kades Gunungreja Lasiman yang diwakili oleh Sekdes, BPD, Tim Penggerak PKK, LPPMD, Linmas, RT/RW, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama serta masyarakat.
Selain dari kecamatan Sidareja, turut hadir rekan-rekan Kepala desa dari kecamatan Gandrungmangu seperti Kades Wringinharjo Hasanan, Kades Rungkang Susanto dan Kades Karanggintung Turmono, serta dari kecamatan Kedungreja yaitu Plt. Kades Jatisari Arif Darmawan, Sekdes Ciklapa Sutarjo, S.Pd.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Margasari menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan rangkaian kegiatan peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia. Secara khusus, ia juga mengapresiasi dukungan dari Anggota DPRD Cilacap, Saeful Musta’in.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan dari Bapa Saeful Musta’in yang telah mengawal aspirasi pembangunan infrastruktur jalan di dua lokasi desa Margasari,” tutur Samingun.
Sementara itu, Camat Sidareja menekankan pentingnya peran generasi penerus dalam mengisi kemerdekaan melalui pembangunan fisik dan pelestarian budaya. Menurutnya, seni wayang kulit mengandung filosofi hidup yang mendalam, seperti nilai kepemimpinan, kesabaran, gotong royong dan introspeksi diri.
“Wayang kulit adalah jati diri bangsa yang tidak boleh dilupakan. Didalamnya tersirat kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Nugroho.
Perlu diketahui oleh masyarakat bahwa, Lakon wayang kulit “Wahyu Katentreman” yang dibawakan Ki Dalang Eko Suwaryo menceritakan situasi Kerajaan Amarta dan Hastinapura yang dilanda kekacauan akibat hawa nafsu kepemimpinan yang serakah. Kurawa dan Pandawa sama-sama berupaya mendapatkan “Wahyu Katentreman” yang merupakan anugerah dewa serta memancarkan kedamaian sejati.
Kurawa yang mengandalkan ambisi, kekuatan fisik dan pemaksaan kehendak mengalami kegagalan. Sebaliknya, Pandawa yang menempuh jalan “sepi ing pamrih, rame ing gawe” melalui tirakat dan penyucian hati berhasil menerima anugerah tersebut melalui sosok Puntadewa, hingga kedamaian dan keselarasan alam kembali terwujud.
Dalam lakon ini menyajikan tiga pesan filosofis utama bagi kehidupan masyarakat dan berbangsa yaitu syarat kedamaian hakiki. Kedamaian sejati tidak dapat dibeli dengan jabatan, uang atau kekuatan militer, melainkan melalui kemampuan mengendalikan empat nafsu dalam diri yakni aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah. Hakikat kepemimpinan (Astabrata) yaitu kedamaian rakyat sangat bergantung pada keheningan jiwa dan ketulusan niat pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk tidak mengutamakan kepentingan kelompok (ego sektoral).
Selain itu, terdapat harmoni alam dan manusia dengan mengusung falsafah “Memayu Hayuning Bawana“. Ketika batin manusia tenteram, interaksi sosial dan ekosistem alam di sekitarnya secara otomatis akan terjalin harmonis.
Liputan : Muhiran
Editor : Wakil Pimpinan Umum
Informasi lainnya, kunjungi Facebook Central Media dengan klik tautan :
https://www.facebook.com/profile.php?id=61592238848093
Anda harus menginstal aplikasi Facebook sebelumnya untuk mengakses kami.














